Senja menegaskan indahnya ciptaan Sang Pencipta, merahnya disusul oleh hitamnya langit berhias bintang.
Termenung ku dalam kesendirian, sadar ku akan arti keberadaanmu.
Kawan, diriku bagai seekor semut hitam dalam gelapnya malam di tengah hutan.
Merindu bagai kemarau panjang yg merindukan hujan.
Kawan, butiran nasi seakan iri melihat 5 tangan yg merebutkannya dalam sebuah piring, segelas air pun seakan tersenyum mendengar canda tawa dlm kebersamaan kita kala itu.
Kini ragamu entah di mana, sepiku menjelaskan betapa bermaknanya kebersamaan itu.
Tawamu kini tersamar samar di telingaku, rangkulanmu kini hanya sebatas bayangan hitam yg tak nyata.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar