Senja menegaskan indahnya ciptaan Sang Pencipta, merahnya disusul oleh hitamnya langit berhias bintang.
Termenung ku dalam kesendirian, sadar ku akan arti keberadaanmu.
Kawan, diriku bagai seekor semut hitam dalam gelapnya malam di tengah hutan.
Merindu bagai kemarau panjang yg merindukan hujan.
Kawan, butiran nasi seakan iri melihat 5 tangan yg merebutkannya dalam sebuah piring, segelas air pun seakan tersenyum mendengar canda tawa dlm kebersamaan kita kala itu.
Kini ragamu entah di mana, sepiku menjelaskan betapa bermaknanya kebersamaan itu.
Tawamu kini tersamar samar di telingaku, rangkulanmu kini hanya sebatas bayangan hitam yg tak nyata.
Senin, 26 Oktober 2015
Manusia dan Harta
Tetesan hujan bercerita tentang kebenaran di langit. Kepalsuan dunia bersembunyi dibalik angkuhya manusia. Harta menjadi Tuhan yang bersemayam dalam jiwa-jiwa mereka, lalu dipuja-puja dan terus berkompetisi mencari harta layaknya anjing yang terus menginginkan tulang.
Lalu bertanyaku dalam diam, sampai kapan keangkuhan itu berkuasa? Kepuasan menjadi hal mustahil yang takkan pernah lekat dalam jiwa mereka. Hanya rasa syukur dan kemampuan berbagi yang mampu menghadirkan konsep kaya dalam hidup manusia.
Langganan:
Postingan (Atom)
